PARIGI MOUTONG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong terus memacu upaya pemajuan kebudayaan daerah melalui serangkaian program strategis pada tahun 2026.
Fokus utama tahun ini meliputi penyusunan literatur sejarah suku lokal, revitalisasi bahasa daerah, hingga penyelenggaraan festival budaya tahunan.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Parigi Moutong, Ninong Pandake, mengungkapkan bahwa salah satu agenda prioritas adalah penyusunan Buku Ensiklopedia Suku Tialo.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari proyek pendokumentasian suku-suku besar yang ada di Parigi Moutong yang sebelumnya telah mencakup Suku Kaili, Tajio, dan Lauje, ujarnya. Rabu (8/4/2026).
“Tahun ini kita fokus pada Suku Tialo. Buku ini akan menyusun secara detail daur hidup masyarakat Tialo, mulai dari prosesi kelahiran hingga wafat,” kata Ninong.
Proses penulisan buku ini dijadwalkan mulai berjalan pada Juni 2026, disusul dengan agenda bedah buku untuk empat suku besar pada Agustus mendatang.
Selain pendokumentasian adat istiadat, pemerintah daerah juga memberikan perhatian khusus pada pelestarian bahasa. Bidang Kebudayaan tengah bekerja sama dengan Balai Bahasa untuk melakukan revitalisasi bahasa Tialo. Selama ini, bahasa Tialo sering kali dikategorikan ke dalam rumpun bahasa Dondo (Tolitoli).
“Melalui program revitalisasi dan kongres bahasa, kita berupaya agar bahasa Tialo diakui sebagai bahasa mandiri. Ini penting karena penuturnya tersebar luas dari Kecamatan Tomini hingga Moutong,” jelas Kabid Kebudayaan.
Sebagai langkah konkret, Disdikbud akan menggelar Workshop Bahasa Daerah pada September 2026. Workshop ini menyasar para guru tingkat SD dan SMP sebagai persiapan pengenalan bahasa daerah ke dalam kurikulum Muatan Lokal (Mulok) di satuan pendidikan pada tahun 2027.
Selain isu literasi dan bahasa, Parigi Moutong juga telah menyiapkan sejumlah event dan program penguatan budaya lainnya, di antaranya:
– Festival Gampiri: Memasuki tahun ketiga penyelenggaraan, festival ini dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026 dengan berbagai lomba kesenian.
– Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS): Program yang didanai APBD ini menyasar 10 sekolah (lebih banyak dari kuota nasional yang hanya 5 sekolah) untuk mendekatkan seni kepada generasi muda.
– Pelatihan Tari Tradisional: Upaya regenerasi penari lokal agar kesenian daerah tetap lestari.
– Cagar Budaya: Agenda pembuatan papan informasi serta sidang penetapan status cagar budaya di wilayah Parigi Moutong.
– Revisi Dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD): Melalui Forum Group Discussion (FGD) untuk menyelaraskan kebijakan kebudayaan di masa depan.
Pemerintah berharap seluruh rangkaian kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi mampu memperkuat jati diri masyarakat Parigi Moutong di tengah arus modernisasi.
Disdikbud Parigi Moutong Garap Buku Ensiklopedia dan Perkuat Bahasa Daerah












