PARIGI MOUTONG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong terus berkomitmen menjaga kelestarian adat istiadat lokal. Melalui Bidang Kebudayaan, pemerintah daerah kini tengah menyelesaikan proyek penulisan buku bertajuk “Daur Hidup Masyarakat Kabupaten Parigi Moutong”.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Parigi Moutong, Ninong Pandake, menjelaskan program penulisan ini telah berlangsung selama empat tahun terakhir. Fokus utamanya adalah mendokumentasikan tradisi dan kebiasaan empat suku besar yang ada di wilayah tersebut.
“Penulisan buku ini mencakup daur hidup masyarakat dari empat suku besar. Di tahun pertama kami memulai dengan Suku Kaili, tahun kedua Suku Tajio, tahun ketiga Suku Lauje dan tahun keempat ini kami fokus pada Suku Tialo,” ujar Ninong, Rabu 8 April 2026
Buku ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan panduan mendalam mengenai ritual dan kebiasaan masyarakat setempat. Ninong memaparkan bahwa isi buku tersebut merangkum seluruh fase kehidupan manusia dari sudut pandang adat masing-masing suku.
“Kami menuliskan bagaimana kebiasaan masyarakat mulai dari seseorang dilahirkan ke muka bumi ini, hingga ia wafat. Semua tradisi itu dituangkan agar tidak hilang ditelan zaman,” tambahnya.
Dalam proses penyusunannya, Bidang Kebudayaan melibatkan narasumber lokal yang merupakan tokoh adat atau ahli waris tradisi dari masing-masing suku. Salah satunya adalah Bapak Ardi Salama yang menjadi narasumber utama untuk Suku Tialo.
Saat ini, buku-buku tersebut baru dicetak dalam jumlah terbatas, yakni sekitar 20 eksemplar per suku sebagai draf awal. Namun, Ninong memastikan bahwa setelah seluruh materi rampung, pihaknya akan menggelar agenda besar berupa bedah buku untuk keempat suku tersebut secara sekaligus.
“Setelah dilakukan bedah buku nanti, baru akan kami perbanyak. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak perpustakaan agar buku ini bisa menjadi arsip daerah,” jelas Ninong.
Ninong Pandake menekankan pentingnya literasi budaya di tengah gempuran budaya asing. Menurutnya, jika tradisi lisan tidak segera dibukukan, maka identitas asli masyarakat Parigi Moutong terancam punah.
“Kalau tidak ditulis, tradisi kita bisa hilang. Jangan sampai anak cucu kita nanti lahir tetapi justru lebih tahu tentang orang Korea daripada tradisi sukunya sendiri. Buku ini akan menjadi pedoman dan warisan bagi anak cucu kita nanti,” pungkasnya.
Dengan tuntasnya penulisan draf suku keempat (Tialo), Disdikbud Parigi Moutong berharap buku “Daur Hidup” ini dapat menjadi referensi utama bagi pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di sekolah-sekolah maupun masyarakat umum.
Lestarikan Tradisi, Disdikbud Parigi Moutong Rampungkan Penulisan Buku ‘Daur Hidup’ Empat Suku Besar

















