Tragedi Berulang di Tambang Emas Buranga

banner 468x60

PARIGI MOUTONG — Aktivitas pertambangan emas di Buranga, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong, dilaporkan kembali menelan korban jiwa. Peristiwa tersebut mengingatkan pada kejadian longsor yang terjadi pada Rabu, 24 Februari 2021, ketika puluhan penambang tertimbun material dan tujuh orang dilaporkan meninggal dunia.

Meski peristiwa memilukan pernah terjadi di lokasi tersebut, aktivitas pertambangan emas di kawasan Buranga disebut masih beroperasi. Peristiwa terbaru ini kembali memunculkan kekhawatiran terhadap aspek keselamatan di area pertambangan tersebut.

Rabu (12/2/2026) malam, seorang penambang bernama Aco (31) dilaporkan tertimbun longsor di lokasi galian tambang. Peristiwa terjadi sekitar pukul 22.15 WITA saat korban bersama seorang rekannya mengambil material di dinding tebing lubang tambang.

Menurut keterangan di lokasi, longsor tiba-tiba terjadi dari bagian atas tebing galian dan menimbun keduanya. Rekan korban berhasil menyelamatkan diri, sementara Aco tertimbun material tanah.

Sekitar lima menit setelah kejadian, para penambang melakukan pencarian dengan menggali material longsor menggunakan alat berat. Korban ditemukan dalam kondisi tertimbun dan langsung dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat.

Setelah mendapatkan penanganan medis, korban dinyatakan meninggal dunia pada pukul 22.30 WITA. Jenazah kemudian dibawa pihak keluarga ke rumah duka di Desa Buranga.
Informasi yang dihimpun menyebutkan lubang tambang yang longsor dikelola oleh seorang pendana bernama Dona.

Kasi Humas Polres Parimo, IPTU Arbit, mengatakan situasi di lokasi telah diamankan. Namun, proses pemeriksaan lanjutan belum dapat dilakukan secara menyeluruh.

“Untuk saat ini lokasi sudah diamankan. Pemeriksaan praktis belum memungkinkan karena keluarga masih berduka. Upaya selanjutnya akan dilakukan setelah situasi memungkinkan,” ujar Arbit saat dihubungi via telepon, Jumat (13/2/2026).

Ia menambahkan jumlah korban masih dalam pendataan. “Sementara satu orang meninggal dunia. Untuk kemungkinan korban lain masih menunggu hasil pemeriksaan dan pendataan dari rekan-rekan di lapangan,” katanya.

Berjarak sekitar 15 menit dari Desa Buranga, aktivitas tambang ilegal juga berlangsung terbuka di Desa Tombi menggunakan alat berat. Kondisi tersebut membuat warga resah karena potensi longsor dan pencemaran air semakin nyata. Beberapa titik galian disebut berada di area yang selama ini menjadi sumber air bersih masyarakat.

“Lokasinya sangat dekat dengan rumah warga. Getaran dan suara mesin terdengar jelas, bahkan hingga malam hari,” ujar seorang sumber yang meminta namanya dirahasiakan, Jumat (13/2/2026).

“Kami takut dampaknya bukan hanya sekarang, tapi juga jangka panjang,” tambahnya.

Ia meminta aparat penegak hukum segera turun tangan. Penertiban dinilai mendesak karena lokasi tambang berada di zona yang beririsan langsung dengan permukiman warga.

Sementara itu, aktivis HAM dan lingkungan Dedi Askary menilai tambang emas ilegal dan penangkapan ikan tanpa izin telah menempatkan Parimo pada kondisi kritis. Kerusakan di darat disebut mulai menjalar ke laut dan mengancam masa depan nelayan serta ekosistem pesisir.

Dedi yang pernah memimpin Komnas HAM Sulteng menggambarkan kondisi pesisir sebagai “layar robek” akibat praktik ilegal berlapis. Ia menyebut aktivitas tambang emas ilegal di hulu membawa tailing dan merkuri ke hilir hingga bermuara di Teluk Tomini.

“Ini bukan sekadar kerusakan lokal. Sedimentasi dan racun logam berat menjadi ancaman langsung bagi terumbu karang, padang lamun, dan ruang hidup nelayan tradisional,” kata Dedi. (axa)

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *