PARIGI MOUTONG – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Parigi Moutong menyiapkan lompatan besar bagi ekonomi di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) .
Dalam lima tahun ke depan, KADIN Parigi Moutong menargetkan pembangunan ekosistem industri durian terintegrasi dari hulu hingga hilir, dengan sasaran 10 juta pohon durian produktif, 1.000 packing house, serta penyerapan hingga 250 ribu tenaga kerja.
Ketua KADIN Parigi Moutong, Faradiba Zaenong, menegaskan bahwa target ini dibangun di atas fondasi nyata yang sudah mulai terbentuk di Sulawesi Tengah.
“Untuk saat ini, Sulawesi Tengah telah memiliki kurang lebih 400.000 pohon durian montong produktif di atas lahan sekitar 4.000 hektar. Ini adalah kekuatan awal yang harus kita dorong naik secara signifikan,” ujar Faradiba, Sabtu 11 April 2026
Di sektor hilir, perkembangan juga mulai terlihat. Saat ini tercatat telah berdiri sekitar 42 unit packing house yang tersebar di Kota Palu, Parigi Moutong, dan Sigi.
“Artinya kita tidak mulai dari nol. Infrastruktur hilir sudah ada, tinggal kita percepat menuju skala 1.000 unit,” tambahnya.
Lebih lanjut, Faradiba mengungkapkan bahwa pengembangan ke depan akan difokuskan pada daerah-daerah dengan basis produksi kuat.
“Dalam catatan kami, Kabupaten Poso akan menjadi salah satu daerah prioritas pengembangan pembangunan packing house, mengingat Poso memiliki jumlah durian produktif terbanyak di Sulawesi Tengah,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pendekatan berbasis potensi wilayah ini penting agar pembangunan berjalan efektif dan berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi daerah.
“Daerah yang kuat di produksi harus diperkuat di hilir. Di situlah nilai tambah akan tercipta,” tegas Faradiba.
Program penanaman 10 juta pohon durian akan dijalankan lintas kabupaten dengan melibatkan petani lokal, menggunakan standar budidaya berbasis kualitas ekspor.
Sementara itu, pembangunan 1.000 packing house akan menjadi tulang punggung sistem logistik modern untuk menjaga kualitas, meningkatkan nilai tambah, serta memastikan kontinuitas pasokan dalam skala besar.
“Kalau kita tidak membangun hilir, kita hanya akan menjual bahan mentah. Dengan packing house, kita masuk dalam rantai perdagangan global,” lanjutnya.
Lebih lanjut, target penyerapan 250.000 tenaga kerja menunjukkan bahwa program ini merupakan gerakan ekonomi rakyat berskala besar yang akan menggerakkan berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga ekspor.
Dalam pernyataannya, Faradiba juga memanggil seluruh Bupati se-Sulawesi Tengah untuk mengalokasikan anggaran daerah dalam mendukung gerakan 10 juta bibit durian di wilayah masing-masing.
“Ini bukan lagi program sektoral. Ini adalah gerakan ekonomi Sulawesi Tengah. Semua daerah harus terlibat dan mengambil bagian,” tegasnya.
Ia juga mendorong Gubernur Sulawesi Tengah untuk mengorkestrasi program ini secara terintegrasi di tingkat provinsi.
“Kita butuh kepemimpinan provinsi agar gerakan ini menjadi satu kekuatan besar,” tambah Faradiba.
Dengan fondasi produksi yang sudah ada, serta penguatan wilayah prioritas seperti Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah dinilai memiliki peluang besar menjadi episentrum industri durian Indonesia sekaligus pemain utama ekspor dunia.
“Kita sudah punya dasar. Sekarang saatnya mempercepat dan melompat jauh ke depan,” imbuhnya
Target KADIN: 10 Juta Pohon Durian dan Ribuan Packing House di Sulteng Serta 250 Ribu Serapan Tenaga Kerja


















