KADIN Parigi Moutong Wujudkan Program 9 BERANI: Dari Potensi ke Hasil Nyata

Uncategorized0 Dilihat
banner 468x60

PARIGI MOUTONG — Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Parigi Moutong terus menunjukkan peran strategisnya dalam mendorong percepatan pembangunan ekonomi daerah. Melalui implementasi Program 9 BERANI.

Ketua Kadin Faradiba Zaenong, menegaskan bahwa percepatan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah kini tidak lagi berbasis pada potensi semata, melainkan telah bergerak pada hasil nyata di lapangan.

banner 336x280

Hal tersebut disampaikan dalam forum koordinasi yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Sulawesi Tengah, pada Rabu, 1 April 2026, bertempat di Gedung Auditorium Kantor Bupati Parigi Moutong. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala BAPPEDA Provinsi Sulawesi Tengah serta seluruh jajaran BAPPEDA Kabupaten/Kota se-Sulawesi Tengah.

Dalam kesempatan tersebut, Faradiba menegaskan bahwa dirinya hadir bukan hanya sebagai Ketua KADIN Parigi Moutong, tetapi sebagai representasi dunia usaha yang sedang bekerja nyata di lapangan.

“Hari ini kita tidak lagi bicara potensi, kita bicara hasil. Parigi Moutong sudah menembus pasar ekspor durian dunia,” tegasnya.

Sebagai organisasi resmi yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1987, KADIN memiliki peran strategis sebagai wadah dunia usaha sekaligus mitra pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“KADIN bukan sekadar organisasi, tapi jembatan antara kebijakan pemerintah dan realitas dunia usaha,” jelasnya.

Melalui visi besar “1 Rumah 1 Pengusaha”, KADIN Parigi Moutong terus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, mengubah pola pikir dari pekerja menjadi pelaku usaha, serta mengangkat potensi desa berbasis komoditas unggulan.

Salah satu sektor yang kini menjadi motor penggerak ekonomi baru adalah durian. Tahun sebelumnya Sulawesi Tengah tercatat telah mengekspor sekitar 40.000 ton durian ke pasar internasional, khususnya Tiongkok.

Hal ini didukung oleh sekitar 4.000 hektare kebun durian montong dengan lebih dari 400.000 pohon produktif, serta 30 unit packing house yang telah beroperasi.

“Durian hari ini bukan lagi buah, tapi telah menjadi instrumen ekonomi yang menggerakkan desa,” ujarnya.

Dampak ekonomi dari sektor ini pun sangat signifikan. Jika sebelumnya perputaran uang ditargetkan mencapai Rp1 triliun, maka pada tahun ini KADIN Parigi Moutong menargetkan peningkatan yang jauh lebih besar, yakni hingga Rp3 triliun dana dari pasar Tiongkok yang masuk ke Sulawesi Tengah melalui sektor bisnis durian.

“Ini bukan angka kecil. Uang ini tidak berhenti di perusahaan, tapi langsung mengalir ke petani dan tenaga kerja lokal. Inilah ekonomi yang benar-benar hidup di desa,” tambahnya.

Namun demikian, Faradiba juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi, khususnya terkait belum optimalnya kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Hal ini disebabkan oleh belum tersedianya regulasi daerah yang mengatur tata niaga secara terstruktur.

“Bukan karena tidak ada potensi, tapi karena regulasi belum hadir untuk mengikat dan mengarahkan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan sektor durian ini merupakan implementasi nyata dari Program 9 BERANI. Pada sektor hulu, program BERANI Panen Raya telah berjalan melalui perluasan kebun, distribusi bibit unggul, dan pendampingan petani.

Sementara pada sektor hilir, BERANI Nambaso (hilirisasi) diwujudkan melalui penguatan packing house, pengolahan produk, serta akses pasar global.

“Hulu sudah bergerak, hilir sudah jalan, pasar sudah terbuka. Ini adalah bentuk nyata Program BERANI yang sedang hidup di Parigi Moutong,” tegasnya.

Ke depan, ia menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam memperkuat ekosistem industri, mulai dari perluasan perkebunan, penyusunan regulasi tata niaga, penguatan infrastruktur logistik, hingga penciptaan iklim investasi yang aman dan kondusif.

“Dunia usaha siap berlari, tapi membutuhkan pemerintah untuk membuka jalannya,” ungkapnya.

Menutup pernyataannya, Faradiba menyampaikan optimisme bahwa Parigi Moutong telah bertransformasi menjadi daerah produksi dan ekspor, bukan sekadar daerah potensi.

“Jika kita serius menjalankan Program 9 BERANI secara kolaboratif, maka bukan hanya durian yang kita panen, tapi kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah.” harapnya

Sebagai bentuk komitmen kolaborasi regional, ia juga membuka peluang kerja sama bagi seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Tengah.“Kepada seluruh kabupaten yang hadir, jika Anda menginginkan investasi masuk ke daerah Anda, silakan menghubungi KADIN Parigi Moutong. Kami siap menjadi jembatan antara potensi daerah dan investor.” terangnya

Dengan penuh keyakinan, ia menegaskan:“Kami di KADIN siap memastikan bahwa setiap buah yang jatuh dari pohon durian, membawa nilai ekonomi bagi rakyat.” tutup Faradina

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *